AI di Layar Perak

AI di Layar Perak: Senjata Produktivitas atau Ancaman Kreativitas?

Industri film, sebuah ranah yang berlandaskan seni, imajinasi, dan sentuhan manusia, kini tengah menghadapi gelombang pasang teknologi yang tak terhindarkan: kecerdasan buatan (AI). Kehadiran AI di layar perak bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang telah merasuk dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia sinema. Pertanyaannya, apakah AI adalah sekutu yang mempercepat proses atau musuh yang mengancam keberlangsungan kreativitas dan pekerjaan?

Dampak AI pada industri film memang bagaikan bilah pedang yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, ada inovasi yang disambut baik, seperti fitur Generative AI dari Adobe yang terbukti mampu mempercepat dan mempermudah proses penyuntingan. Ini adalah contoh bagaimana AI berperan sebagai alat produktivitas, membantu para profesional film bekerja lebih efisien.

Peneliti film terkemuka, Hikmat Darmawan, melihat ini sebagai keniscayaan yang harus diterima. Ia bahkan menegaskan bahwa AI, dalam konteks ini, bukanlah revolusi yang akan menggulingkan tatanan industri secara ekstrem, melainkan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi yang terus bergerak maju.

“Jika AI dianggap sebagai alat, berarti fungsinya adalah sebagai penunjang produktivitas.” “Jika itu sudah menjadi bagian juga,” kata Hikmat kepada CNNIndonesia.com. “Oleh karena itu, yang terjadi saat ini bukanlah revolusi, melainkan akibat wajar dari kemajuan teknologi.” 

Saat AI Masuk ke Dunia Kreativitas: Perdebatan tentang Hak Cipta dan Etika

Namun, masalah muncul ketika AI melangkah lebih jauh, merambah ke ranah kreasi. Kemunculan model AI generatif yang diklaim mampu menciptakan film hanya dengan perintah atau prompt tertentu memicu gelombang pro-kontra sengit. Kekhawatiran terbesar berpusat pada isu pelanggaran hak cipta. Model-model AI ini diduga kuat melatih diri mereka dengan mengolah ribuan, bahkan jutaan karya seni asli ciptaan manusia, termasuk wajah-wajah aktor, untuk menghasilkan konten baru.

Sebuah studi berjudul “AI dalam Sektor Layar: Perspektif dan Langkah Selanjutnya” dari British Film Institute (BFI) menegaskan kekhawatiran ini. Mereka menemukan fakta mengejutkan: lebih dari 130 ribu naskah film dan serial telah digunakan untuk melatih model AI. Angka ini menunjukkan skala penggunaan data yang masif, yang secara langsung menimbulkan pertanyaan etis dan hukum terkait kepemilikan intelektual.

Hikmat Darmawan pun mengamini keresahan ini. Ia menekankan pentingnya etika dalam pemanfaatan AI, terutama saat bersentuhan dengan wilayah kreativitas. “Semuanya pasti harus ada etikanya ya. Karena contohnya untuk yang paling berkonflik itu merupakan etika dalam bidang kreativitas,” ujarnya. “Dikarenakan cara kerjanya mengikuti pola yang telah ada, dia harus secara terpaksa mendidik diri dalam pengertian mengumpulkan, serta menggunakan karya yang telah ada atau bahkan wajah kita.” Ini adalah inti dari perdebatan yang juga menjadi salah satu pemicu mogok besar-besaran pekerja film dan televisi di Amerika Serikat pada tahun 2023.

Sentuhan Manusia yang Tak Tergantikan

Respons pelaku industri film terhadap AI sangat beragam. Sebagian besar menerima eksistensinya selama ia tetap berada dalam koridor sebagai alat penunjang produktivitas. Angga Dwimas Sasongko, CEO Visinema dan sutradara ternama, adalah salah satu individu yang menganut pandangan ini. Ia mengakui manfaat AI dalam meningkatkan efisiensi dan memperkuat kerja sama.

Namun, Angga juga menarik garis batas yang tegas: AI tidak dapat dipakai dalam konteks kreasi. Bagi dia, bidang kreasi merupakan hak manusia, suatu prinsip yang diterapkannya di setiap karyanya tersebut tetap yang utama,” tegasnya.

Survei BFI 2023 mengungkapkan bahwa 17 persen produser di Inggris telah menggunakan AI, sementara 40 persen sisanya berencana untuk melakukannya. Ini adalah tanda tegas bahwa AI di layar perak menjadi pilihan yang semakin sulit untuk diabaikan.

Namun, seperti yang dinyatakan oleh Direktur Riset BFI, Rishi Coupland, masa depan industri film akan sangat tergantung pada kemampuan sektor ini dalam memaksimalkan keuntungan AI sambil meminimalkan risiko yang ada. Risikonya besar: tanpa perencanaan strategis yang solid, industri film dapat kalah dalam persaingan dengan studio-studio baru yang menggunakan AI.


Akhirnya, perbincangan tentang AI di dunia perfilman akan tetap berlanjut. Namun, satu hal yang jelas: meski AI dapat meniru, mengolah, dan mempercepat, sentuhan manusia dalam kreativitas—keaslian, emosi, dan imajinasi—tetaplah tak tergantikan. Baca berita lain di sini.