AI Perang Bertemu Musik

AI Perang Bertemu Musik: Kontroversi Helsing dan Daniel Ek

Sejumlah musisi internasional ramai-ramai memboikot Spotify setelah mengetahui Daniel Ek, CEO platform tersebut, melakukan investasi besar pada Helsing. Helsing, sebuah “otak digital” yang lahir dari kecanggihan AI perang bertemu musik, kini terjebak dalam pusaran konflik Gaza, di mana teknologinya dikabarkan menjadi bagian dari operasi militer yang mematikan. Boikot ini menjadi puncak dari ketidakpuasan para musisi terhadap Spotify, yang juga dikritik karena royalti yang rendah.

Apa itu Helsing?

Didirikan pada tahun 2021, Helsing adalah perusahaan teknologi pertahanan yang beroperasi di Eropa. Mereka fokus mengembangkan perangkat lunak berbasis AI perang bertemu musik yang dirancang untuk menganalisis data sensor dan sistem persenjataan dalam jumlah besar di medan perang.

Dengan teknologi ini, pihak militer dapat membuat keputusan secara real-time saat menjalankan operasi tempur. Selain software, Helsing juga memproduksi hardware militer, seperti drone HX-2. Perusahaan ini mengklaim misinya adalah untuk “melindungi nilai-nilai demokrasi dan masyarakat terbuka,” namun peran mereka dalam pengembangan sistem tempur berbasis AI memicu kecaman keras, terutama di tengah eskalasi konflik di Gaza.

Alasan Boikot: Etika dan Finansial

Keterlibatan Daniel Ek dengan Helsing menjadi penyebab utama boikot ini. Melalui perusahaan modal venturanya, Prima Materia, Ek memimpin putaran pendanaan sebesar US$700 juta pada Juni 2025 dan kini menjabat sebagai ketua dewan Helsing.

Para musisi melihat investasi ini sebagai pengalihan keuntungan dari industri seni ke industri militer. Mereka berpendapat bahwa ini bertentangan dengan semangat musik sebagai medium ekspresi damai dan menyoroti ironi di mana keuntungan dari karya seni digunakan untuk membiayai teknologi perang.

Greg Saunier, pendiri band Deerhoof, menjadi salah satu suara yang paling vokal. Dia secara tegas menarik semua karya bandnya dari Spotify. “Apakah setiap kali lagu kami diputar, itu berarti ada dolar yang ikut membiayai tragedi di Gaza mengubah penderitaan menjadi keuntungan?”

Musisi Lain Ikut Bersuara

Aksi boikot tidak hanya berhenti pada Deerhoof. Band-band lain seperti Xiu Xiu, label elektronik Kalahari Oyster Cult, dan band rock asal Australia King Gizzard & the Lizard Wizard juga turut serta. Stu Mackenzie, sang vokalis King Gizzard & the Lizard Wizard, memilih jalan yang sunyi namun tegas. Dengan menyatakan bahwa ini adalah langkah untuk “tetap setia pada diri sendiri,” ia menarik musik bandnya dari Spotify, seolah tak ingin melodi mereka berdampingan dengan industri perang.


Boikot ini mencerminkan keresahan yang lebih dalam di kalangan musisi. Selain isu etika yang berkaitan dengan industri pertahanan, mereka juga sudah lama menilai Spotify karena memberikan royalti yang sangat minim. Investasi besar-besaran Ek ke perusahaan militer dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap kesejahteraan para seniman yang karyanya menjadi sumber utama pendapatan Spotify. Baca berita lain di sini.