Pisang Dilakban Laku

Pisang Dilakban Laku Rp98 Miliar, Taipan Kripto Membelinya

Sebuah instalasi seni yang sangat nyentrik, yaitu sebutir pisang dilakban laku yang ditempel di dinding, berhasil terjual dengan harga fantastis: US$6,2 juta atau sekitar Rp98 miliar. Karya berjudul “Comedian” ini dibeli oleh seorang taipan kripto asal Tiongkok, Justin Sun, dalam lelang yang diadakan oleh Sotheby’s di Amerika Serikat.

Lelang dibuka dengan harga awal US800ribu,namundalamwaktulimamenit,tujuhpenawaragresifmembuatharganyamerokethinggaUS5 juta. Justin Sun, yang juga pendiri platform kripto, akhirnya memenangkan lelang dengan tawaran tertinggi, US$6,2 juta.

Makna di Balik Karya Nyeleneh

Menurut seniman Italia di balik karya ini, Maurizio Cattelan, “Comedian” adalah komentar satir tentang absurditas dunia seni, uang, dan para penggemarnya. Ia mengatakan, semakin tinggi harganya, semakin kuat pula pesan yang ingin ia sampaikan.

Lucunya, pisang yang digunakan bukanlah pisang dilakban laku istimewa. Cattelan membelinya dari seorang penjual buah di luar Sotheby’s, bernama Shah Alam. Alam, seorang imigran dari Bangladesh, menjual pisang-pisang itu seharga 35 sen per buah atau empat buah seharga satu dolar.

Alam mengaku sangat terkejut saat mengetahui pisang dari kiosnya laku jutaan dolar. “Saya tak pernah punya uang sebanyak ini, saya tak pernah melihat uang sebanyak ini,” ucap Alam sambil menitikkan air mata.

Perbedaan Nasib dan Kedermawanan Mendadak

Perbedaan nasib antara seniman, pembeli, dan penjual buah ini sangat mencolok. Alam, yang pindah ke AS pada tahun 2007, tinggal di apartemen sederhana dan bekerja dengan upah hanya US$12 per jam. Ia merasa bingung dengan orang yang rela membayar mahal untuk sebutir pisang. “Mereka yang beli, orang macam apa mereka? Apa mereka tak tahu apa itu pisang?” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Justin Sun merasa terhormat memiliki karya seni yang disebutnya sebagai fenomena kebudayaan. Ia bahkan berjanji akan membeli 100.000 pisang dari kios Alam sebagai bentuk terima kasih dan mendistribusikannya secara gratis ke seluruh dunia.

“Kontribusi Alam terhadap karya seni yang luar biasa ini sangat penting, karena menyoroti berbagai kemungkinan dan nilai yang tak terbatas dalam kehidupan sehari-hari,” kata Justin, yang juga berharap bisa bertemu langsung dengan Alam suatu hari nanti.

Respon Seniman: Seni Tak Selesaikan Masalah

Di sisi lain, Cattelan mengaku terharu dengan respons Alam, namun ia menegaskan bahwa seni, pada dasarnya, bukanlah solusi untuk masalah sosial. “Jika memang memecahkan masalah, itu akan menjadi politik,” ujarnya.

Sikap Cattelan ini menunjukkan bahwa “Comedian” bukan bertujuan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, tetapi untuk memprovokasi pemikiran tentang nilai, uang, dan seni itu sendiri. Sebuah karya yang benar-benar berhasil memicu perdebatan di berbagai lapisan masyarakat, dari taipan hingga penjual buah. Baca berita lain di sini.